Selamat Datang ; Selamat Jalan

Akhirnya aku dapat kesempatan untuk menulis di blog ini lagi. Beberapa bulan ini terasa agak berat, beban kuliah yang banyak belum lagi seabreg rencana sana-sini yang belum tuntas terselesaikan. Tapi akhirnya tetap merasa bersyukur, Tuhan masih beri kesempatan buatku untuk dapat menikmati masa muda ini :3

Tahun ini mungkin akan terasa lebih panjang sepertinya. Jujur, ditahun 2017 kemarin total satu tahun aku merasakan ada sesuatu yang kurang, mungkin lebih tepatnya hilang. Sampai dipenghujung bulan Januari kemarin aku menemukan alasannya, adalah ; blog ini.

Aku seharusnya tahu lebih awal, blog ini lahir pun karena satu alasan yang sama dengan kebingunganku saat ini ; karena kamu. Satu tahun lebih, aku memulai langkah baru dengan tulisanku di blog ini, tujuannya hanya satu ; mengutarakan apa yang tak dapat kuutarakan secara langsung padamu. Dari A sampai Z semuanya tertumpah disini 🙂


Agustus 2015

Kali pertama aku berstatus mahasiswa, lepas dari pengawasan langsung orangtua, haha ini lucu, saat itu juga aku bertemu satu takdir, satu janji yang kupegang hingga saat ini. Aku masih ingat betul waktu itu ; seselesainya kuliah Kalkulus, tujuan utama adalah kantin yang jauh terpisah dari Venue Barat ke Timur. Waktu itu kacamataku kulepas yang praktis menambah nilai -2.75 dari 0. Tapi, aku masih bias menilai warna kulitmu ; agak hitam, atau gurat senyum di pipimu menarik garis halus kebawah mata lalu menyipit sesaat setelah aku menebar senyum.


Sayang demi sayang kita berbeda kelas, tapi sungguh Tuhan itu baik ; kita satu Program Studi!. Setidaknya ada satu kali dalam seminggu kita bertemu dikelas yang sama, atau mungkin setiap hari, dikantin, dipojok tiang dibawah terik mentari.

September 2016

Satu tahun sungguh berlalu sangat cepat, mungkin karena aku terlalu menikmatinya atau aku terlalu menikmati sosok mu?. Aku tak pernah merasa se-bersyukur ini, kalau dikata ini takdir, itu pasti ; tiga tahun dari sekarang aku punya banyak kesempatan, sebanyak-banyaknya hidupku berjalan untuk dapat mengagumi satu jasad ciptaan Tuhan yang indah. Terimakasih Tuhan (

Satu lagi jalan Tuhan yang baik menurutku ; aku berada satu kelompok praktikum dengannya, yang berarti ; sekurang-kurangnya empat jam dalam satu hari, satu kali seminggu, kita akan berada diluar kelas, dimana kita bersama dibawah teriknya matahari ; aku tak tahu mengapa sinarnya begitu menarik ketika terjatuh diatas kulitmu, belum pernah aku merindu mentari seperti ini.


Hingga akhir tahun datang, kita maju selangkah lagi kedepan. Namun satu yang pasti tidak berkurang ; perasaan ini. Tetapi sunggupun, satu tahun lebih enam bulan hingga ke penghujung Desember, satu patah kata pun taka ada terucap dariku bahkan untuk saling menyapa, ahh Tuhan ini sungguh beban berat bagiku.


Sepanjang Tahun 2017

Bukan aku yang kurang inisiatif, hanya saja ada rantai besar disini ; dimulut ini. Jadi maaf, kusampaikan semuanya lewat tulisan sepanjang tahun ini, dari tulisan-tulisan ini berton-ton bebanku ditangguhkan, kalau saja memang bisa kuutarakan pasti akan kulakukan, maaf.

Praktis satu tahun penuh aku menulis, meskipun banyak yang tidak kuterbitkan disini, semuanya tentang dirimu. Satu tahun lagi berkurang tanpa kata dariku.


Selamat Datang, 2018!!!

Tahun ini sudah berjalan dua bulan, dan perlahan aku sadar bahwa perasaan ini sungguh-sungguh tak bergerak mundur sedikit pun. Dan untuk kali ini pula aku merasa bahwa ada tanggung jawab dibawah perasaan hati tulus ; kerelaan untuk menanggung rasa sakitnya mencintai. Lagi, aku bersyukur untuk rasa ini, untuk kehadiranmu yang sungguh mengajarkanku akan arti mencintaimu tanpa harus memiliki.

Aku sebenarnya tidak tahu, mungkin ini karma? Waktu itu aku menaruh hati padamu, waktu itulah aku menduakan hatiku darinya untukmu. Meskipun akhirnya kami berbalas impas ; dia lebih memilih yang lain tepat dimasa tujuh tahun kami bersama. Dan jika memang iya, Tuhan maafkan aku. Dan meskipun aku mengerti tetapi aku masih belum terima, bahwa mencintai tak harus memiliki. Kita sama-sama manusia, raga butuh raga.


Dua setengah tahun berlalu dan satu setengah tahun tersisa ;


Maaf aku mencintaimu tanpa pamit. Aku berharap ini tak benar-benar nyata untukku, karena kehadiranmu juga tak benar-benar kusentuh sempurna. Maaf aku memilih jatuh dihatimu.

Pada akhirnya ; sekarang, perlahan aku akan mundur dari singgahsana keegoisanku, aku yakin dibelakangmu akan kutemukan tempat terbaik untuk selalu mencintaimu. Mungkin akan ada waktu baik yang akan mempertemukan kita, saat itu aku berjanji akan kuutarakan semuanya satu-persatu, kalimat demi kalimat. Aku meminta maaf sekali lagi lewat tulisan ini ; maaf aku memilih jatuh dihatimu.



From S to R,

31 Agustus 2015 s/d 1 Maret 2018.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s