Munajat Pada Langit

Pada detik yang lalu, ada ragu bergema disudut kamar, katanya,‎
“raga-kah cintamu, demi satu paras ternistakanlah sukma suci itu”,


barangkali hitam mata membutakan,

atau merahnya hati mendustakan.

Sungguhpun….


Aku raga butuh raga,

tak sejauh langit-bumi atau air-api kudepak hasrat ini.

sudut kamar membisu….


“Ahhh aku temanmu, bisik-bisik indah ditengah hening malam, bagaimanapun itu jauh dari hasrat ragamu”, yang


kemudian terpanalah seisi kamar,


saat subuh sang surya mengintip, atau,

siang saat dia bertahta, atau,

senja kala itu berlalu, atau,

saat langit menutup matanya,


ada baris-baris munajat terbisik, terbawa angin dan rindu serta hati,


ke sudut kamar, ke langit-langit, berpendar pada empat penjuru,


bahwa mahabbah-mu tak kau genggam erat, namun terlepas dalam tetes air dipelupuk mata itu tulus berpadu,


dalam munajat suci yang berlantun, bukan

demi raga, namun,


karena eloknya hati ciptaan Sang Khalik.

Kota Tapis Berseri

1 Agustus 2017

Advertisements

13 thoughts on “Munajat Pada Langit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s