Perihal Hujan-Bumi

Ada cerita baru diawal di bulan Juni, di tetes-tetes hujan yang menyelimuti bumi, yang lalunya jatuh,dan sekarang kunikmati pelukmu lewat mata itu.
Dan… sesaat tak kunikmati bumi berpialang hujan, seperti halnya biasa kulakukan,  kini aku terlena pada nikmat lain.

Sesaat lalu kata hujan “Apakah rindu bertahan atau mungkin cinta tak berakhir?”

Dan untuk hujan, yang sebagaimanapun rindunya berat pada bumi, akan ada waktu untuk bersama, dan demi sang waktu pula, pertemuan hujan-bumi tak akan lekang abadi.

Hujan, jika pertemuanmu dengan bumi membawaku pada lena nikmatnya perasaan itu, aku mau egois.

Tapi akhirnya adalah nyata, tak ada hujan jika bumi tak nelangsa diterpa sang rindu matahari.

Sampai masa berakhir, Juli pun bersua akan tanda akhirnya, 

yang kini… tak kurasakan lagi rindunya, yang untuk sebentar saja aku sadar, bahwa rindunya bukan miliknya,

itu… jejak rindu yang kulukis.‎

Jadilah akhir penghujan samadengan akhir nikmat itu.

Tak ada hujan selimut bumi, tak lagi matamu menghangatkan isi kepala dan hati ini.

Aku bukan bumi yang kau peluk itu.

Tapi aku bumi yang merindumu.

Inilah rindu yang kunikmati.

Atas nikmat yang Tuhan berikan, aku bersyukur akan rasa ini, yang membawaku pada indahnya merindu dan mencinta.
Ps : teruntuk kalian, jika cinta adalah anugerah, maka jagalah itu, untuk ku yang tak dapat saling berbalas anugerah.‎
Kota Tapis Berseri,

30 Juli 2017‎

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s