Perfect Line

Aku berusaha melupakan apa yang  tak harus kulupakan. Kukenang semua mimpi, menyalinnya satu demi satu dalam ingatanku.Jika ini tentangmu, aku selalu berusaha, menghapusnya. Dan meski ini bukan, tidakkah aku ingin menyimpanya? Tidak. Karena kurasa ini semua tentangmu.

Agar tiap kali itu tentangmu, biar kunikmati rasa sakitnya. Sebuah garis panjang yang terputus-putus, tetap kutulis, yang meski tak utuh tapi inilah Perfect Line ku.

Jika ketidaktahuan adalah suatu bentuk perlindungan Tuhan. Bukankah jadinya aku dipermainkan oleh hidup? Jika ini adalah sebuah perlindungan, mengapa aku selalu takut akan bayang-bayangku, menunjukkan siapa diriku tiap saat.

Jadi kurasa hidup adalah permainan, dan perasaan manusia, perasaanku adalah bidak permainannya.

Lalu hidup….

Permainan….

Kurasa cukup, 6 tahun lamanya bidakku maju-mundur bermain-main.

6 tahun… jika,

1 tahun hanyalah waktu saat bidakku terpegang, bergoyang ditempat mencari jalan maju.

5 tahun tersisa, entah bidakku mau mengincar apa? Apalagi ketika lawan ternyata sudah pergi, yasudah kulupakan saja. Bidakku maju-mundur bermain-main bersama perlindungan Tuhan itu.

Sungguh, ini bukan hal yang mudah. Jika ini iya semudah itu, perlukah kutunggu perlindungan itu selama ini, hanya dalam rangka demi ‘tak melanggar batas’ Tuhan itu. 

6 tahun itu hal yang mudah (sekarang), semudah kau terperangkap bidak papan lain.

Karena akhirnya, garis tak utuhku akan memulai garis lain, segaris dengan perfect line ku.

Jadi sekarang, selamat tinggal.

Ini jadi akhir dari masa-masa permainan dan perlindungan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s