Kita Sama (2)

Rasanya….. sudah 3 tahun ini aku benar-benar dapat merasakanmu disini, disaat kau benar-benar sudah tidak di dunia ini. Sangat dekat terasa, sangat nyata kumimpikan, kau memang bukan yang pertama kuinginkan, kuakui itu, tapi kau yang terakhir kuinginkan, sungguh, hingga pada waktunya, kau pergi tanpa satupun perasaan kuungkapkan. Kupikir kau tahu, kupikir kau mengerti, tapi kurasa kau tahu, juga mengerti.

Hei! Dia mirip denganmu, tepat 6 bulan setelah kau pergi, aku bertemu dengannya. Tapi, aku merasa ada ikatan disana, aku tak tahu. Mungkin rasa kecewa dan frustasiku, membawa aku jatuh. Aku tahu kesalahanku dimasa itu, aku pengecut. Rasanya aku akan mengulanginya lagi sekarang. Aku memilih diam dibanding mau berkata “aku suka sama kamu” atau apalah, kata-kata ungkapan hati se-khalayak orang lain. Ahhhh, aku tak cukup berani untuk jadi seperti itu, aku hanya berpikir, dia adalah kau, tidak, tidak sedikitpun aku mau bermain-main dengannya, aku serius!! Lucu kupikir, dia begitu menarik, semenarik kau dulu. Penuh pertanyaan, matanya-matamu menyimpan pertanyaan, coklat-hitam, bulat, bening sedikit air mata mu diterpa sinar.

Waktu itu aku hanya diam, kudengar suara gundah di meja di kananku. Hahah, kulihat disana ada kau, ahh, maksudku dia, bingung, berkeringat mengerjakan pertanyaan-pertanyaan itu. Ya, waktu berlalu cepat, masa rehat datang. Aku hanya diam, dia yang menyapaku, lagi, lagi, lagi, itu suara yang pertama kudengar darinya sekaligus yang terakhir. Suara saat dia menyapaku, aku hanya terdiam. Ya Tuhan, kenapa ini terjadi, haruskah aku mengulangnya, aku hanya, hanya tak bisa, tak mungkin aku mengalihkan perhatian ku padanya. Perkenalan saat itu tidak kuikuti dengan baik, dia sebutkan namanya, kudengar aneh, tak kuminta dia mengulangnya, langsung kujawab dengan menyahut namaku, berjabat tangan. Aku tak tahu namamu, sama sekali tidak.

Waktu itu, waktu berakhir, aku keluar pertama, aku meninggalkannya disana. Hingga saat di setengah perjalananku, aku berbalik, aku harus tahu siapa kau, meski aku tahu, mungkin aku harus melewatkanmu juga.

Kau dan dia, A ke Z.

A, kau pergi terlalu cepat, dan Z kau datang saat aku…. hancur.

A, maaf aku tidak pernah mengatakannya hingga kau harus benar-benar pergi. Z, aku menunggu waktu, karena kau bilang, itu bukan masalah. Dan, hei Z, kurasa itu bukan masalah waktu, karena semua ini hanya akan menjadi tulisan absurd ku, takkan pernah jadi nyata, untuk dapat kuungkapkan.

Advertisements

2 thoughts on “Kita Sama (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s